Search

Archives

Diberdayakan oleh Blogger.
Selasa, 03 Juni 2014
Oleh :
RESIEN
7117130025
resien.chiu@gmail.com



ABSTRAK
SMA Methodist Tanjung Morawa merupakan salah satu Sekolah Menengah Atas yang ada di Kabupaten Deli Serdang, Kecamatan Tanjung Morawa. Sekolah ini didirikan pada tahun 1986 dengan membuka dua program bidang studi yaitu Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan llmu Pengetahuan Sosial (IPS). Untuk mencapai tujuan dari Sekolah, SMA Methodist Tanjung Morawa merumuskan Visi dan Misi sekolah dengan jabaran Tujuan Sekolah yang sejalan dengan Visi dan Misi dari Perguruan Kristen Methodist Indonesia Tanjung Morawa yang merupakan lembaga yang menaungi 5 tingkat yang dimulai dari Playgroup, Taman Kanak-Kanak, SD, SMP dan SMA. Sebagai sekolah yang selalu melakukan pembaharuan dalam pembelajaran dan pengelolaan yang sesuai standar pendidikan Nasional. Untuk mengetahui apakah pelaksanaan Learning Organization di SMA Methodist Tanjung Morawa, maka digunakan instrument pengkuran learning organization profile yang berupa kuesioner subsystem Learning Organization profile dari Michael J. Marquardt yang terdiri dari 4 skala, yaitu : skala 4 = applies totally; skala 3 = applies to a great extent; skala 2 = apllies to a moderate extent; dan skala 1 = apllies to little or no extent. Hasil yang diperoleh dari instrument learning organization profile adalah sebagai berikut : 1) Learning Dynamics =  26 (B); 2)Organization Transformation = 23 (B); 3)People Empowerment = 35 (A); 4)Knowledge Management = 31 (A); dan 5)Technology Application = 23 (B). Adapun total jumlah skor sebagai hasil pengukuran instrument dari 5 subsystem yang di ukur melalui kuesioner diperoleh Learning Organization profile pada SMA Methodist Tanjung Morawa adalah 138, artinya 69% Learning Organization pada Sekolah telah terlaksana sebagian besar  (applies to a great extent).





Minggu, 01 Juni 2014

Disusun Oleh:
Gulmah Sugiarti


Kampusku Sayang merupakan sebuah  organisasi belajar tempat dimana orang menimba ilmu untuk masa depan. Untuk mengetahui pelaksanaan Organesasi Belajar di Kampusku Sayang maka digunakan instrument pengukuran berupa Angket dari Michael J. Marquardt dengan 5 subsistem yang hasilnya adalah sebagai berikut : Pada bagian Dinamika Pembelajaran, jumlah skor yang diperoleh adalah 33, dari skor total 40.  Artinya  82,5 % dinamika pembelajaran dilakukan oleh individu, group  maupun organesasi, dan hasilnya Baik. Pada bagian Transformasi Organesasi,  jumlah skor yang diperoleh adalah  33, dari skor total 40, artinya 82,5 % Transformasi Organesasi, Visi,  Budaya, Strategi dan Struktur, dengan hasil yang Baik. Pada bagian  Pemberdayaan Masyarakat,  jumah skor yang diperoleh 34 dari skor total 40, artinya 85% pemberdayaan masyarakat, baik guru, mahasiswa, rekanan, pelanggan, dan supplier sudah menuju sempurna, dan disimpulkan  Baik Sekali, atau Sangat Baik. Pada bagian  Management Pengetahuan, jumlah skor yang diperoleh 30 dari skor total 40, artinya 75% management pengetahuan berjalan Baik, Pada bagian  Aplikasi Teknologi, jumlah skor yang diperoleh sudah Sangat Baik yaitu, mencapai skor 36 dari skor total 40. Artinya indicator-indikator  angket yang ditawarkan Michael J. Marquardt terpenuhi dengan Sangat Baik Secara total Skor  yang diperoleh dari kelima sub system yang ditawarkan Michael J. Marquardt mencapai angka 166 dari skor total 200. Ini artinya Kampusku Sayang khususnya prodi tempatku berjuang adalah merupakan organesasi belajar yang  Sangat Baik dan dapat Diandalkan.
Sabtu, 31 Mei 2014

LEARNING ORGANIZATION PROFILE
SMA METHODIST TANJUNG MORAWA

Oleh :
RESIEN
7117130025
resien.chiu@gmail.com



ABSTRAK

SMA Methodist Tanjung Morawa merupakan salah satu Sekolah Menengah Atas yang ada di Kabupaten Deli Serdang, Kecamatan Tanjung Morawa. Sekolah ini didirikan pada tahun 1986 dengan membuka dua program bidang studi yaitu Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan llmu Pengetahuan Sosial (IPS). Untuk mencapai tujuan dari Sekolah, SMA Methodist Tanjung Morawa merumuskan Visi dan Misi sekolah dengan jabaran Tujuan Sekolah yang sejalan dengan Visi dan Misi dari Perguruan Kristen Methodist Indonesia Tanjung Morawa yang merupakan lembaga yang menaungi 5 tingkat yang dimulai dari Playgroup, Taman Kanak-Kanak, SD, SMP dan SMA. Sebagai sekolah yang selalu melakukan pembaharuan dalam pembelajaran dan pengelolaan yang sesuai standar pendidikan Nasional. Untuk mengetahui apakah pelaksanaan Learning Organization di SMA Methodist Tanjung Morawa, maka digunakan instrument pengkuran learning organization profile yang berupa kuesioner subsystem Learning Organization profile dari Michael J. Marquardt yang terdiri dari 4 skala, yaitu : skala 4 = applies totally; skala 3 = applies to a great extent; skala 2 = apllies to a moderate extent; dan skala 1 = apllies to little or no extent. Hasil yang diperoleh dari instrument learning organization profile adalah sebagai berikut : 1) Learning Dynamics =  26 (B); 2)Organization Transformation = 23 (B); 3)People Empowerment = 35 (A); 4)Knowledge Management = 31 (A); dan 5)Technology Application = 23 (B). Adapun total jumlah skor sebagai hasil pengukuran instrument dari 5 subsystem yang di ukur melalui kuesioner diperoleh Learning Organization profile pada SMA Methodist Tanjung Morawa adalah 138, artinya 69% Learning Organization pada Sekolah telah terlaksana sebagian besar  (applies to a great extent).

Disusun oleh:

Hudson Sidabutar
hudsonsidabutar@yahoo.com

 
Abstrak

    Sekolah suatu organisasi belajar  yang dirancang secara khusus untuk pengajaran yang memiliki visi, misi dan tujuan. Organisasi belajar  suatu konsep dimana organisasi dianggap mampu untuk terus menerus melakukan proses pembelajaran mandiri (self leraning) sehingga organisasi tersebut memiliki ‘kecepatan berpikir dan bertindak’ dalam merespon beragam perubahan yang muncul. Kegagalan sekolah sebagai organisasi belajar karena sekolah  tidak melakukan pembelajaran mandiri, orangdidalam organisasi tidak mengembangkankapasitasnya secara terus-menerus  tidak mampu beradaptasi dengan tantangan kemajuan zaman. Tujuan dari tulisan ini untuk mengukur apakah sekolah yang sebagai objek sampel dari tulisan ini  sudah menjadi organisasi pembelajaran. Metode penelitian dilakukan dengan survey pada satu sekolah pada bulan April 2014. Instrument yang digunakan berupa angket yang di adopsi dari buku Building the Learning Organization yang ditulis oleh Marquardt (2002:237-241), ada lima komponen yaitu (1) dinamika pembelajaran yang dilakukan, (2) transformasi organisasi (3)pemberdayaan warga sekolah (4)Manajemen (5)Pengetahuan aplikasi teknologi
Dari hasil pengumpulan data maka diperoleh bahwa dinamika pembelajaran yang dilakukan oleh individu, grup maupun organisasi, disekolah jumlah skor   22 dari 40 skor maksimal atau 55 % , dengan rata-rat 2,2. Dengan demikian  dinamika pembelajaran yang dilakukan sekolah tersebut berada pada tingkatan moderat (sedang = 25%-50%).  Pada bagian transformasi organisasi tersebut, jumlah skor yang diperoleh 20 dari skor total 40 maksimal  (50 %) skor rata-ratanya 2.0 artinya transformasi organisasi yang ada di SMA tersebut dilaksanakan pada tingkatan moderat (sedang = 25%-50%),  Pada bagian pemberdayaan warga sekolah tersebut, jumlah skor yang diperoleh 22 dari skor total 40, artinya pemberdayaan warga sekolah di SMA adalah  55 %, skor rata-ratanya adalah 2.2, berarti pelaksanaan  subsistem  pemberdayaan warga di  SMA dilaksanakan pada tingkatan cukup besar total (cukup  Besar = 50% -75%).  Pada bagian Manajemen Pengetahuan, skor yang diperolah 20 dari skor total 40, artinya penerapan manajemen pengetahuan di sekolah tersebut adalah  82.5%, skor rata-ratanya adalah 2.0, hal ini berarti pelaksanaan  subsistem  knowledge (pengetahuan) di  SMA berada pada tingkatan yang rendah. Pada bagian aplikasi teknologi tersebut, skor yang diperoleh adalah 22 dari skor total 40, atau sekitar  50 %  pemanfaatan  teknologi yang diaplikasikan sekolah tersebut dalam proses pembelajaran maupun administrasi, skor rata-ratanya adalah 2.2, berarti pelaksanaan  subsistem teknologi di  SMA berada dilaksanakan pada tingkatan cukup besar total (cukup  Besar = 50%-75%). Secara keseluruhan dari lima bagian pengamatan jumlah 106 dari total skor 200, maka penerapan sekolah terhadap organisisasi belajar hanya 53 %, yang artinya bahwa pelaksanan sekolah sebagai organisasi belajar dilaksanakan pada tingkatan cukup besar total (cukup  Besar = 50%-75%).
Disusun Oleh Jainab



Universitas Quality  merupakan salah satu universitas yang ada di Kabupaten Karo yang terdiri dari lima Faklutas yaitu : Fakultas Pertanian, Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi , Fakultas Hukum dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan terdiri dari tiga Prodi yaitu PPKn, Pendidikan Matematika dan Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Prodi PGSD merumuskan visi dan misi disesuaikan dengan visi dan misi FKIP , dan  Universitas Quality,  Visi Prodi PGSD yaitu menyiapkan guru sekolah dasar yang profesional, mampu memberi keteladaan, membangun kemauan dan mengembangkan kreativitas peserta didik dan terkemuka di Sumatera Utara.Untuk mengetahui pelaksanaan Learning Organization (LO) di digunakan instrumen pengukuran (kuesioner) subsystem Learning Organisasi Profile (Buku “Building The Learning Organization”) oleh Michael J. Marquardt (1996), antara lain: (1) Learning Dynamics; (2) Organization Transformation; (3) People Empowerment; (4) Knowledge Management; dan (5) Technology Application. Instrumen ini menggunakan skor dengan empat skala, yaitu: skor 4 (benar-benar terlaksana), skor 3 (terlaksana sebagian besar), skor 2 (terlaksana sebagian), dan skor 1 (terlaksana sedikit/tidak), Setiap subsystem Learning Organisasi Profile terdiri dari 10 indikator. Adapun total jumlah skor sebagai hasil akhir yang diperoleh secara keseluruhan dari instrumen pengukuran (kuesioner) dari 5 (lima) subsystem Learning Organization Profile di Prodi PGSD adalah 158, artinya 79% Learning Organisasi (LO) Prodi PGSD sudah terlaksana dengan baik.
Disusun oleh
Parulian Sibuea



Bertahannya sebuah organisasi belajar adalah satu ilustrasi real yang cukup ideal dari sebuah sekolah.  Organisasi belajar adalah suatu konsep dimana organisasi dianggap mampu untuk terus menerus melakukan proses pembelajaran mandiri (self  leraning) sehingga organisasi tersebut memiliki ‘kecepatan berpikir dan bertindak’ dalam merespon beragam perubahan yang muncul.  Jurnal ini bertujuan untuk mengukur sekolah sebagai organisasi belajar.  Angket yang di adopsi dari buku Building the Learning Organization yang ditulis oleh Marquardt (2002) ini akan mencoba menjawab apakah sebuah sekolah sudah menjadi organisasi belajar. Dalam paparan data yang akan disajikan adalah data yang diambil pada sebuah organisasi di SMA Negeri 1 AP, Kab.  Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara. Ada 5 dimensi yang akan diukur yaitu: (1) dinamika pembelajaran, individu, grup atau tim, dan organisasi, (2) transformasi organisasi : visi, budaya, strategi dan  struktur, (3) pemberdayaan warga sekolah: manager, karyawan/guru, pelanggan/ siswa, rekanan, suplier dan komunitas, (4) manajemen pengetahuan: akuisisi, kreasi, penyimpanan, pemulihan dan transfer, (5) aplikasi teknologi: sistem pengetahuan informasi, pembelajaran berbasis teknologi dan sistem pendukung kinerja elektronik.

Jumat, 30 Mei 2014
Disusun oleh:
Sanggup Barus



Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui profil organisasi belajar Program Studi Idola Jurusan Pemersatu Bangsa Fakultas Pengembang Kepribadian Universitas Penghasil Sumber Daya Manusia yang Berkualitas. Hasil pembahasan menunjukkan beberapa hal. Pertama, sebagai organisasi belajar, Program Studi Idola kekurangan dosen sebanyak sembilan orang. Kedua, nilai profil organisasi belajar Program Studi Idola tergolong ke dalam kategori sedang. Ketiga, sebagai organisasi belajar, Program Studi Idola perlu meningkatkan kualitas dirinya dalam subsistem dinamika belajar, transformasi organisasi, pemberdayaan manusia, manajemen pengetahuan, dan aplikasi teknologi.

Entri Populer